Sunday, December 8, 2013

LETS SAVE OUR WORLD !

                                                          

Cuaca hari ini sangat panas. Tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku cuma menghembuskan nafas sesekali sambil melirik pohon-pohon yang sudah mulai berkurang di pinggiran kota tempat aku tinggal. Aku heran, kemana perginya pohon-pohon itu. Yang aku tahu, semakin hari pohon-pohon itu tidak bertambah, malah semakin berkurang.
Fiuh. Saking panasnya, telur mentahpun bisa langsung matang jika dijemur di tengah terik matahari. Haha, itu tadi hanya sebuah perumpamaan lo. Aku cuma duduk di bangku pinggir jalan sambil melihat kesibukan jalan raya. Asap kendaraanpun bertebaran dimana-mana.
Aku merenung. Merenungkan nasib bumi. Tadi, guru IPA ku berkata bahwa bumi akan meleleh seperti es krim yang lama kelamaan akan meleleh karena panasnya suhu. Sebagai penghuni bumi, tentu saja aku tak rela jika bumiku meleleh. Jika bumi meleleh, bagaimana dengan manusia?  Apakah masih ada jiwa penolong yang berniat menyelamatkan bumi? Aku harus bertindak. Kalau bukan aku siapa lagi?
Lamunanku terhenti saat aku menatap sesosok tubuh tegap yang menerjang padatnya arus lalu lintas. Kulihat ia sedang membawa gerobak yang mengangkut berbagai macam tanaman. Kukira dia seorang penjual bunga. Tetapi dia tidak terlihat sebagai seseorang yang berekonomi rendah. Dia malah berpenampilan layaknya pengusaha-pengusaha muda di televisi.
Aku pun penasaran. Entah apa yang mendorongku untuk mengikuti orang itu. Ternyata orang itu berhenti tepat di pinggir hutan. Apa yang akan dilakukannya? Astaga, orang itu menanam tanaman yang tadi dibawanya. Akupun mendekati kakak pengusaha tadi. Olala, ternyata dia salah satu orang yang berjiwa penolong. Setelah berbincang cukup lama, aku baru tahu kalau kakak itu bernama Kak Hadi dan dia memang seorang pengusaha. Dan lebih hebatnya lagi, dia pengusaha daur ulang limbah! Double hebat bukan?
Karena hari sudah mulai malam, aku pamit untuk pulang. Tapi aku ingin berguru pada Kak Hadi. Akhirnya, besok kami sepakat untuk bertemu. Dalam perjalanan pulang, aku masih memikirkan sosok Kak Hadi. Apa yang menyebabkan pengusaha muda itu peduli dengan lingkungan sekitarnya. Mungkin pertanyaanku akan terjawab besok.
Ibuku menunggu di ruang tamu sambil berkacak pinggang. Aku hanya cengengesan saja. Ternyata aku pulang lebih lambat dari perkiraanku. Tanpa diduga, ibu menceramahiku. Yah, aku hanya bisa menundukkan kepala sambil mengangguk-angguk kecil.
Karena tidak kuat, akhirnya akupun membela diriku. Aku menceritakan kepada ibu tentang keprihatinanku terhadap bumi yang sekarang kita tinggali. Aku juga menceritakan tentang Kak Hadi. Ibu mendengarkan dengan seksama. Di wajah tua namun teduh itu, tersirat kebanggaan. Ibu berkata bahwa aku harus melanjutkan usahaku untuk memupuk kesadaran generasi penerus bangsa untuk melindungi bumi.
Wuih, kelihatannya ibu bangga kepadaku. Aku tidak akan mengecawakan ibu. Dalam hati kecilku, aku berjanji untuk menghidupkan kesadaran tentng bumi.
 


Di sekolah, aku menceritakan kejadian yang kualami kemarin kepada sahabtku. Doni. Dia juga ingin menyelamatkan bumi lho. Sepertinya aku, Doni dan Kak Hadi akan menjadi partner penyelamat bumi yang serasi. Pulang sekolah, aku dan Doni menemui Kak Hadi di tempat kerjanya. Di pabrik pengolahan limbah. Aku dan Doni melihat alat-alat yang digunakan. Canggih banget.
Setelah menunggu, akhirnya Kak Hadi pun muncul. Kami menggelar rapat kecil-kecilan. Aku mengajukan usul yang akan kami lakukan. Sepertinya Kak Hadi dan Doni tertarik. Oke, karena semuanya setuju kami akan memulai misi penyelamatan bumi.
The first mission kita adalah menyadarkan orang terdekat kami. Setelah sampai rumah, aku mengumpulkan keluarga kecilku. Aku mulai menyadarkan mereka. Meskipun agak susah, akhirnya mereka mengerti akan pentingnya menyelamatkan bumi. Yes, misiku berhasil. Aku akan mengabari kedua partner ku. Mereka juga sukes. Ciha.. the first mission to save our world success. Good job guys.
Kegembiraanku tak berlangsung lama. Di pinggir jalan menuju hutan banyak pohon yang ditebangi. Gelondongan-gelondongan kayu itupun diangkut oleh truk besar. Oh God, apa ini. Apakah ini semacam penebangan liar? Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi partnerku. Tak lama kemudian, mereka datang. Kulihat ada rasa kecewa dalam hati mereka. Sekarang aku tau kemana pohon-pohon itu pergi. Ya, mereka pergi ke kantong para penebang liar.
Kini saatnya kami beraksi lagi. Tapi sepertinya misi kedua kami sangat beresiko, karena berhubungan dengan bos penebangan pohon liar. Tanpa memikirkan resiko yang ada, kami bangkit dari kekecewaan dan mulai merancang rencana. The perfect plan.
Kami akan mensosialisasikan tentang dampak penebangan liar kepada para warga dan juga bos yang suka menebang pohon secara liar. Jangan kira hal itu mudah. Kami banyak mendapat cacian, terutama dari kalangan bos-bos. Tapi ada seorang bos yang berpihak kepada kami. Dia telah sadar karena, rumah yang dulu dia cintai rusak total akibat banjir.
Si bos tersebut juga menceritakan kronologi terjadinya banjir akibat pohon-pohon itu ditebangi secara liar. Mulanya mereka tetap tidak menggubris, tapi lama-kelamaan mereka sadar dan menyesali sikap mereka. Tapi ada juga bos yang langsung pergi meninggalkan acara sosialisasi. Tapi itu tidak menyurutkan niat kami untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kami perbuat.
Kami mempunyai rencana untuk menanam pohon-pohon. Ada yang ambil bagian untuk membuat brosur yang akan disebarkan kepada masyarakat luas. Rencananya, kami akan mengajak banyak masyarakat untuk mengikuti kegiatan yang akan kami lakukan. Kami mulai membagi-bagi tugas. Para bos menyumbang uang untuk membeli pohon yang akan kami tanam.
Kulihat semua bekerja keras dengan ikhlas dan sangat bergembira. Sepertinya kegiatan ini akan berjalan lancar. Aku tak sabar menunggu hari esok. Meskipun kami hanya menanam bibit pohon, tapi kami sangat bangga. Waktunya membagi-bagi brosur.
Kami turun ke jalan raya dengan membagi brosur penanaman bibit pohon. Ada berbagai macam reaksi masyarakat. Ada yang acuh, menerima, tertawa, mengejek dan sebagainya. Tapi kami tetap bersemangat.
Setelah semua urusan telah selesai, kami beristirahat untuk mempersiapkan kegiatan esok. Akupun pulang ke rumah. Tak lupa, keluargaku kuundang untuk mengikuti kegiatan penanaman bibit pohon. Mereka terlihat bangga. Mereka tak mengira kalau langkahku sudah sejauh ini.
Huahm. Karena capek, aku memutuskan untuk tidur. Kamarku yang hangat dan nyaman telah menungguku. Selamat malam dunia. Kita akan memulai perubahan besok.
 


 Mentari pagi serasa menyambut perubahan dunia. Angin berhembus sepoi-sepoi. Mengibaskan rambutku dan mengusir rasa malas dalam diriku. Aku siap. Kuhubungi para panitia. Mereka masih dalam perjalanan. Aku juga harus berangkat sekarang. Kunaiki sepedaku dan ku kayuh dengan penuh semangat. Sudah ada beberapa panitia yang hadir. Kulirik jam tanganku. Masih jam 5. Kami akan memulai kegiatan pukul 6.30. aku harap-harap cemas. Aku takut jika penanaman ini gagal. Entah apa yang membuatku kurang optimis.
Segera kuusir perasaan tidak enak itu. Kurang 15 menit lagi. Tapi hanya segelintir orang yang datang. Aku mulai cemas. Rasa optimisku mulai bangkit ketika segerombolan orang bersepeda dengan peralatan berkebun lengkap terlihat bersemangat. Rasa riang mereka juga dirasakan oleh sang mentari yang terasa teduh memayungi kami.

Ini seperti surprize yang sangat berkesan dan tak akan terlupakan. Ada juga beberapa wartawan yang sibuk meliput. Dalam sekejap, hutan yang gundul itupun serasa seperti lautan manusia yang sedang riang gembira. Aku selaku ketua panitia, tidak menyangka hal ini akan terjadi. Pukul 06.30 tepat. Aku akan memberi sambutan dan akan memulai kegiatan.
Setelah selesai bercuap-cuap, aku mulai mengumumkan bahwa kegiatan hari ini dimulai. Seruuuu!! Aku turut membantu. Tak lama kemudian, ada mobil bertuliskan Indonesian Record memasuki area kegiatan. Aku terkejut ketika mendengar kabar bahwa peserta penanaman bibit pohon melebihi batas dan akan dimasukkan ke buku rekor Indonesia. Senangnya hatiku. Ada juka rekor pribadi. Yaitu, aku termasuk ke dalam orang termuda yang memulai penyelamatan bumi. Saking shyoknya, aku berjingkrak-jingkrak ria seperti orang gila. Seluruh pesertapun bertepuk tangan untuk memberi penghormatan.
Hari yang indah dengan kenangan yang indah. Mentari seakan tersenyum padaku. Kulihat awan menggantung indah di langit biru. Pohon-pohon bergoyang seperti menyambut perubahan. Tapi ini masih langkah awal untuk menyelamatkan bumi. Kuharap masih ada langkah-langkah berikutnya yang berpengaruh pada bumi. Dan aku berharap masih ada jiwa penolong yang lebih hebat di luar sana. Dan mari bersama-sama kita teriakkan semboyan LETS SAVE OUR WORLD ! :D





No comments:

Post a Comment