Cuaca hari ini sangat panas. Tak jauh berbeda dengan
hari-hari sebelumnya. Aku cuma menghembuskan nafas sesekali sambil melirik
pohon-pohon yang sudah mulai berkurang di pinggiran kota tempat aku tinggal.
Aku heran, kemana perginya pohon-pohon itu. Yang aku tahu, semakin hari
pohon-pohon itu tidak bertambah, malah semakin berkurang.
Fiuh. Saking panasnya, telur mentahpun bisa langsung matang
jika dijemur di tengah terik matahari. Haha, itu tadi hanya sebuah perumpamaan
lo. Aku cuma duduk di bangku pinggir jalan sambil melihat kesibukan jalan raya.
Asap kendaraanpun bertebaran dimana-mana.
Aku merenung. Merenungkan nasib bumi. Tadi, guru IPA ku
berkata bahwa bumi akan meleleh seperti es krim yang lama kelamaan akan meleleh
karena panasnya suhu. Sebagai penghuni bumi, tentu saja aku tak rela jika
bumiku meleleh. Jika bumi meleleh, bagaimana dengan manusia? Apakah masih ada jiwa penolong yang berniat
menyelamatkan bumi? Aku harus bertindak. Kalau bukan aku siapa lagi?
Lamunanku terhenti saat aku menatap sesosok tubuh tegap yang
menerjang padatnya arus lalu lintas. Kulihat ia sedang membawa gerobak yang
mengangkut berbagai macam tanaman. Kukira dia seorang penjual bunga. Tetapi dia
tidak terlihat sebagai seseorang yang berekonomi rendah. Dia malah
berpenampilan layaknya pengusaha-pengusaha muda di televisi.
Aku pun penasaran. Entah apa yang mendorongku untuk mengikuti
orang itu. Ternyata orang itu berhenti tepat di pinggir hutan. Apa yang akan
dilakukannya? Astaga, orang itu menanam tanaman yang tadi dibawanya. Akupun
mendekati kakak pengusaha tadi. Olala, ternyata dia salah satu orang yang
berjiwa penolong. Setelah berbincang cukup lama, aku baru tahu kalau kakak itu
bernama Kak Hadi dan dia memang seorang pengusaha. Dan lebih hebatnya lagi, dia
pengusaha daur ulang limbah! Double hebat bukan?
Karena hari sudah mulai malam, aku pamit untuk pulang. Tapi
aku ingin berguru pada Kak Hadi. Akhirnya, besok kami sepakat untuk bertemu.
Dalam perjalanan pulang, aku masih memikirkan sosok Kak Hadi. Apa yang
menyebabkan pengusaha muda itu peduli dengan lingkungan sekitarnya. Mungkin
pertanyaanku akan terjawab besok.
Ibuku menunggu di ruang tamu sambil berkacak pinggang. Aku
hanya cengengesan saja. Ternyata aku pulang lebih lambat dari perkiraanku.
Tanpa diduga, ibu menceramahiku. Yah, aku hanya bisa menundukkan kepala sambil
mengangguk-angguk kecil.
Karena tidak kuat, akhirnya akupun membela diriku. Aku
menceritakan kepada ibu tentang keprihatinanku terhadap bumi yang sekarang kita
tinggali. Aku juga menceritakan tentang Kak Hadi. Ibu mendengarkan dengan
seksama. Di wajah tua namun teduh itu, tersirat kebanggaan. Ibu berkata bahwa
aku harus melanjutkan usahaku untuk memupuk kesadaran generasi penerus bangsa
untuk melindungi bumi.
Wuih, kelihatannya ibu bangga kepadaku. Aku tidak akan
mengecawakan ibu. Dalam hati kecilku, aku berjanji untuk menghidupkan kesadaran
tentng bumi.
Di sekolah, aku menceritakan kejadian yang kualami kemarin
kepada sahabtku. Doni. Dia juga ingin menyelamatkan bumi lho. Sepertinya aku,
Doni dan Kak Hadi akan menjadi partner penyelamat bumi yang serasi. Pulang
sekolah, aku dan Doni menemui Kak Hadi di tempat kerjanya. Di pabrik pengolahan
limbah. Aku dan Doni melihat alat-alat yang digunakan. Canggih banget.
Setelah menunggu, akhirnya Kak Hadi pun muncul. Kami
menggelar rapat kecil-kecilan. Aku mengajukan usul yang akan kami lakukan.
Sepertinya Kak Hadi dan Doni tertarik. Oke, karena semuanya setuju kami akan
memulai misi penyelamatan bumi.
The first mission kita adalah menyadarkan orang terdekat
kami. Setelah sampai rumah, aku mengumpulkan keluarga kecilku. Aku mulai
menyadarkan mereka. Meskipun agak susah, akhirnya mereka mengerti akan
pentingnya menyelamatkan bumi. Yes, misiku berhasil. Aku akan mengabari kedua
partner ku. Mereka juga sukes. Ciha.. the first mission to save our world
success. Good job guys.
Kegembiraanku tak berlangsung lama. Di pinggir jalan menuju
hutan banyak pohon yang ditebangi. Gelondongan-gelondongan kayu itupun diangkut
oleh truk besar. Oh God, apa ini. Apakah ini semacam penebangan liar? Tanpa
pikir panjang, aku langsung menghubungi partnerku. Tak lama kemudian, mereka
datang. Kulihat ada rasa kecewa dalam hati mereka. Sekarang aku tau kemana
pohon-pohon itu pergi. Ya, mereka pergi ke kantong para penebang liar.
Kini saatnya kami beraksi lagi. Tapi sepertinya misi kedua
kami sangat beresiko, karena berhubungan dengan bos penebangan pohon liar.
Tanpa memikirkan resiko yang ada, kami bangkit dari kekecewaan dan mulai
merancang rencana. The perfect plan.
Kami akan mensosialisasikan tentang dampak penebangan liar
kepada para warga dan juga bos yang suka menebang pohon secara liar. Jangan
kira hal itu mudah. Kami banyak mendapat cacian, terutama dari kalangan
bos-bos. Tapi ada seorang bos yang berpihak kepada kami. Dia telah sadar
karena, rumah yang dulu dia cintai rusak total akibat banjir.
Si bos tersebut juga menceritakan kronologi terjadinya banjir
akibat pohon-pohon itu ditebangi secara liar. Mulanya mereka tetap tidak
menggubris, tapi lama-kelamaan mereka sadar dan menyesali sikap mereka. Tapi
ada juga bos yang langsung pergi meninggalkan acara sosialisasi. Tapi itu tidak
menyurutkan niat kami untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kami
perbuat.
Kami mempunyai rencana untuk menanam pohon-pohon. Ada yang
ambil bagian untuk membuat brosur yang akan disebarkan kepada masyarakat luas.
Rencananya, kami akan mengajak banyak masyarakat untuk mengikuti kegiatan yang
akan kami lakukan. Kami mulai membagi-bagi tugas. Para bos menyumbang uang
untuk membeli pohon yang akan kami tanam.
Kulihat semua bekerja keras dengan ikhlas dan sangat
bergembira. Sepertinya kegiatan ini akan berjalan lancar. Aku tak sabar
menunggu hari esok. Meskipun kami hanya menanam bibit pohon, tapi kami sangat
bangga. Waktunya membagi-bagi brosur.
Kami turun ke jalan raya dengan membagi brosur penanaman
bibit pohon. Ada berbagai macam reaksi masyarakat. Ada yang acuh, menerima,
tertawa, mengejek dan sebagainya. Tapi kami tetap bersemangat.
Setelah semua urusan telah selesai, kami beristirahat untuk
mempersiapkan kegiatan esok. Akupun pulang ke rumah. Tak lupa, keluargaku
kuundang untuk mengikuti kegiatan penanaman bibit pohon. Mereka terlihat
bangga. Mereka tak mengira kalau langkahku sudah sejauh ini.
Huahm. Karena capek, aku memutuskan untuk tidur. Kamarku yang
hangat dan nyaman telah menungguku. Selamat malam dunia. Kita akan memulai
perubahan besok.
Mentari pagi serasa
menyambut perubahan dunia. Angin berhembus sepoi-sepoi. Mengibaskan rambutku
dan mengusir rasa malas dalam diriku. Aku siap. Kuhubungi para panitia. Mereka
masih dalam perjalanan. Aku juga harus berangkat sekarang. Kunaiki sepedaku dan
ku kayuh dengan penuh semangat. Sudah ada beberapa panitia yang hadir. Kulirik
jam tanganku. Masih jam 5. Kami akan memulai kegiatan pukul 6.30. aku
harap-harap cemas. Aku takut jika penanaman ini gagal. Entah apa yang membuatku
kurang optimis.
Segera kuusir perasaan tidak enak itu. Kurang 15 menit lagi.
Tapi hanya segelintir orang yang datang. Aku mulai cemas. Rasa optimisku mulai
bangkit ketika segerombolan orang bersepeda dengan peralatan berkebun lengkap
terlihat bersemangat. Rasa riang mereka juga dirasakan oleh sang mentari yang
terasa teduh memayungi kami.
Ini seperti surprize yang sangat berkesan dan tak akan
terlupakan. Ada juga beberapa wartawan yang sibuk meliput. Dalam sekejap, hutan
yang gundul itupun serasa seperti lautan manusia yang sedang riang gembira. Aku
selaku ketua panitia, tidak menyangka hal ini akan terjadi. Pukul 06.30 tepat.
Aku akan memberi sambutan dan akan memulai kegiatan.
Setelah selesai bercuap-cuap, aku mulai mengumumkan bahwa
kegiatan hari ini dimulai. Seruuuu!! Aku turut membantu. Tak lama kemudian, ada
mobil bertuliskan Indonesian Record memasuki area kegiatan. Aku terkejut ketika
mendengar kabar bahwa peserta penanaman bibit pohon melebihi batas dan akan
dimasukkan ke buku rekor Indonesia. Senangnya hatiku. Ada juka rekor pribadi.
Yaitu, aku termasuk ke dalam orang termuda yang memulai penyelamatan bumi. Saking
shyoknya, aku berjingkrak-jingkrak ria seperti orang gila. Seluruh pesertapun
bertepuk tangan untuk memberi penghormatan.
Hari yang indah dengan kenangan yang indah. Mentari seakan
tersenyum padaku. Kulihat awan menggantung indah di langit biru. Pohon-pohon
bergoyang seperti menyambut perubahan. Tapi ini masih langkah awal untuk
menyelamatkan bumi. Kuharap masih ada langkah-langkah berikutnya yang
berpengaruh pada bumi. Dan aku berharap masih ada jiwa penolong yang lebih
hebat di luar sana. Dan mari bersama-sama kita teriakkan semboyan LETS SAVE OUR
WORLD ! :D

No comments:
Post a Comment